| Ruang Rawat Inap Penuh, Bocah 1,5 Th, Ngadu Ke Pemkot Bogor |
| Senin, 01 November 2010 21:21 | |||
Gara–gara ruang inap di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta penuh, seorang bocah yang tidak memiliki lubang anus dibawa oleh kedua orang tuanya ke Kantor Walikota Bogor, Senin (1/11/2010).Fajar bocah yang masih berusia 1,5 tahun, putra pertama dari pasangan Ahmad dan Erna. Bocah yang bertempat tinggal Kp Kawung Luwuk Rt 05 RW 01 Kelurahan Tegal Gundil Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor menderita penyakit Athesia Ani, yakni penyakit langka yang cukup berat, sehingga membuat Fajar harus buang air besar melalui perut yang dilubangi dan dipasangi selang.
Kedatangan Fajar dengan kedua orang tuanya diantar puluhan anggota BBR (Barisan Benteng Bogor Raya). Mereka diterima Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Triwandha Elan, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Edang M Kendana, dan Kepala Puskesmas Tegal Gundil Kecamatan Bogor Utara dr.Sari Chandrawati, dan dua anggota DPRD dari Komisi D Andi Surya dan Yassir Liputo. Mereka mendesak Walikota Bogor untuk segera menangani kasus yang diderita Fajar. “Kami meminta Walikota dan DPRD harus cepat turun tangan, “tandas Ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) BBR Kemal Salim. Menanggapi Kasus tersebut Kepala Puskesmas Tegal Gundil dr. Sari Chandrawati menegaskan, bahwa sebenarnya Fajar tidak dibiarkan, Tapi, pihaknya telah berupaya melakukan penanganan dengan merujuknya ke RSU PMI Bogor. Tapi, karena peralatan operasi di RSU PMI tidak lengkap, sehingga harus di rujuk ke RS Cipto Mangunkusomo Jakarta. Menurut Sari, pihak RSU Cipto Mangunkusumo sudah melakukan pemeriksaan dua kali terhadap Fajar, yaitu pada 8 dan 19 Juli 2010. Namun, Karena ruang rawat inap kelas 3 di RS Cipto Makunkusumo penuh, Fajar tidak bisa dirawat di RS Cipto Mangunkusumo. “Kita juga telah menghubungi RS Fatmawati Jakarta, dan pihak RS Fatmawati juga tidak sanggup menangani Fajar,”katanya. Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Triwandha Elan menegaskan, pihaknya akan terus berupaya menghubungi pihak RS Cipto Mangunkusumo agar Fajar bisa dirawat. “Kalaupun ruang rawat inap kelas 3 penuh, Kami akan mengupayakan Fajar bisa dirawat di ruang rawat inap kelas 2. Soal, biaya perawatan Pemerintah Kota Bogor yang akan menanggungnya, “tukasnya. Sebelumnya dalam acara dialog Interaktif Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 65 Kepala Dinkes Triwandha Elan telah menyampaikan ekspos dihadapan pimpinan Rumah Sakit se Kota Bogor, soal dana Jaminan Kesehatan Masayarakat untuk warga miskin di Kota Bogor. Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat untuk warga miskin Kota Bogor hingga bulan Juli 2010 baru terserap Rp7,051 miliar dari alokasi dana yang disiapkan Pemerintah sebesar Rp18,074 miliar. “ Jadi, masih ada sisa dana sebesar Rp11,022 miliar, “ kata Elan. ![]() Elan menyebutkan, dana untuk berobat warga miskin yang totalnya berjumlah Rp18,074 miliar bersumber dari APBD Kota Bogor sebesar Rp2,5 miliar, APBD Provinsi Jawa Barat Rp1 miliar, dan dari APBD 14,574 miliar. “Dana yang telah terserap sebesar Rp7,051 bersumber dari APBD Kota Bogor dan APBN sedangkan dana dari Provinsi sebesar Rp1 miliar belum terserap dan masih tersimpan di Kas Daerah, “ jelasnya. Lebih lanjut Elan menjelaskan jumlah Gakin (Keluarga Miskin) di Kota Bogor berdasar SK Walikota Bogor tahun 2008 sebanyak 173.968 jiwa, sementara pemegang SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) diluar SK sebanyak 34.861 orang. Data ini memang masih menggunakan data lama. Data baru diharapkan akhir tahun ini selesai validasi,” terangnya. Mengenai alokasi dana berobat warga miskin bersumber dari APBD Kota Bogor tahun 2010 dialokasikan sebesar Rp2,5 miliar dan sudah terserap sebesar Rp 2.401.887.250,- sehingga tersisa Rp98.112.750,- hingga bulan Juli 2010. Pendanaan tersebut untuk membiayai sebanyak 1338 kasus rawat inap dan 343 kasus rawat jalan. “Sisa dana tersebut bukan tidak terpakai, tetapi karena proses administrasi yang belum selesai,” paparnya. (yan)
|