Beranda >

Berita > Panen Padi Organik di Mulyaharja, Bima Arya Minta DKPP Jaga ‘Surga’ yang Tersisa


29 Juli 2020

Panen Padi Organik di Mulyaharja, Bima Arya Minta DKPP Jaga ‘Surga’ yang Tersisa

Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Komandan Kodim 0606/Kota Bogor Kolonel Inf Robby Bulan melakukan panen padi organik di area persawahan Kampung Ciharashas, Mulyaharja, Bogor Selatan, Rabu (29/7/2020). Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor untuk berinovasi dan menjaga lahan pertanian yang masih tersisa.

Di Kampung Ciharashas, Mulyaharja, masih terdapat lahan pertanian sekitar 23 hektare. Di mana, 3,5 hektare diantaranya merupakan lahan padi organik.

“Mulyaharja ini ‘surga’ yang tersisa. DKPP harus memastikan surga yang tersisa ini digarap maksimal. Kami berterima kasih kepada Kementerian Pertanian atas bantuannya, kelompok tani, instruktur dan semuanya, sehingga lahan yang bisa dikatakan minimalis ini bisa digarap maksimal bukan saja kualitas produknya, tetapi juga kuantitasnya karena sudah dibantu pengembangan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP),” ungkap Bima Arya.

Menurut Bima, Kota Bogor arahnya memang bukan sebagai produsen pertanian lantaran lahan murni pertanian tersisa 132 hektare. “Tidak mungkin Kota Bogor itu menjadi produsen pertanian atau swasembada. Tetapi yang mungkin adalah bagaimana ‘surga’ yang tersisa ini bisa kita jaga, dan bisa kita kembangkan bukan saja mensejahterakan petani, tapi mensejahterakan warga sekitar,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, Bima Arya mendorong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor untuk berkolaborasi dan berinovasi menjadikan kawasan tersebut sebagai alternatif tujuan eduwisata.

“Pemandangannya luar biasa. Ini salah satu titik paling indah di Kota Bogor. Saung di tengah sawah Mulyaharja ini menjadi saksi bagaimana Luna Maya menghabiskan banyak jengkol di sini. Saya terus terang kaget seorang Luna maya maniak jengkol. Nasi liwet dengan lauk jantung pisang dicampur jengkol dan teri itu favorit Luna Maya,” kata Bima, lalu tertawa.

“Artinya apa? Ini luar biasa. Harapan kita, kalau dulu di Mulyaharja ini sempat menjadi salah satu kelurahan termiskin karena ada penyakit marasmus, bayi kurang gizi. Tapi, kalau kita serius menggarap tempat ini Insya Allah bisa jadi kelurahan termakmur di Kota Bogor. Petaninya makmur, warganya pun mendapat berkah,” tambahnya.

Keseriusan memberikan nilai lebih pada kawasan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk pengucuran anggaran dari Pemerintah Kota Bogor sekitar Rp 2 miliar. “Kita siapkan semua dan Insya Allah mohon doa restunya, anggaran akan kita kucurkan ke sini tahun ini. Paling tidak dua miliar untuk memperbaiki infrastruktur di sini. Saya minta Pak Kadisparbud koordinasikan dengan wilayah dan tentunya dengan Kejaksaan supaya bisa dikawal dan disesuaikan dengan aturan yang ada,” tandas Bima.

Di tempat yang sama, Dandim 0606/Kota Bogor Kolonel Inf Robby Bulan mengapresiasi kegiatan panen padi organik dalam mendukung ketahanan pangan. “Di mana kegiatan ketahanan pangan ini kami harapkan dapat terciptanya suatu ketahanan wilayah yang nantinya akan membawa ke tahanan di daerah maupun secara umum, yakni ketahanan nasional,” kata Robby.

“Yang kami dapatkan informasi bahwa lahan pertanian di Kota Bogor memang sedikit tapi dengan pengembangan padi organik atau beras organik dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” tambahnya.

Dandim juga menyatakan siap mendukung kebijakan Pemkot Bogor yang akan mengembangkan program eduwisata di kawasan ini. “Ini sangat baik sekali antara pertanian atau urban farming dikombinasikan dengan pariwisata di Kota Bogor, mudah-mudahan dapat meningkatkan kesejahteraan petani khususnya warga Kota Bogor dan kami dari Kodim siap membantu, membackup kegiatan-kegiatan ketahanan pangan yang ada di Kota Bogor,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala BPTP Jawa Barat Wiratno mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan demonstrasi plot (demplot) di 10 hektare lahan pertanian dengan memperkenalkan bioproduk, seperti pupuk organik, komposer supaya cepat menjadi mulsa, dan juga menggunakan pestisida alami.

“Banyak yang bilang kalau pertanian organik itu produksinya rendah. Jadi, kami coba berikan teknologi baru bioproduk ini. Alhamdulillah tadi pagi saya bicara petani di Mulyaharja ini dan menyebut bahwa ada penurunan jumlah penggunaan pupuk organik dari 7 ton per hektar menjadi 4 ton per hektar,” jelasnya.

“Dan produksinya malah naik 30 persen. Jadi, dengan pengaplikasian bioproduk di pertanian organik ini bisa meningkatkan pendapatan nilai beras sebesar Rp 10 juta per hektare. Dan ini merupakan terobosan Kementan dan bioproduk ini juga kami lakukan di 13 kabupaten/kota, termasuk Kota Bogor,” pungkasnya. (prokompim)

 

 

 

Tambahkan Komentar
Nama :
Website :
Email :
Komentar :
Kode Verifikasi :
   
     
Komentar Masuk