Balai Kota Bogor
Jl. Ir. H. Juanda No. 10 Bogor
Jl. Ir. H. Juanda No. 10 Bogor
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, melakukan pembahasan pengelolaan lingkungan hidup bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam kunjungan kerja Komisi D DPRD DKI Jakarta ke Balai Kota Bogor, Jumat (18/9/2026).
Dalam pengelolaan lingkungan hidup, Kota Bogor dan Jakarta memiliki keterkaitan yang erat. Hal tersebut terlihat dari keberadaan sungai-sungai yang hulunya berada di Bogor dan mengalir ke beberapa wilayah Jakarta, pengelolaan sampah, pengendalian dampak luapan air sungai, hingga peluang kerja sama pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Dedie Rachim memaparkan sejumlah kebijakan di tingkat kota yang turut memberikan dampak terhadap perbaikan lingkungan di wilayah Jakarta.
Ia mengatakan, di Kota Bogor terdapat 13 kelurahan yang bersinggungan langsung dengan Sungai Ciliwung. Apabila status Bendung Katulampa berada pada level Siaga 1, maka dalam waktu delapan hingga 12 jam air akan sampai ke wilayah Jakarta.
Untuk meminimalisir dampak tersebut, Kota Bogor telah menjalankan program Ciliwung Bersih. Hal ini dilakukan agar sampah tidak terbawa aliran sungai menuju Jakarta.
"Kita memastikan tidak ada timbulan sampah baru yang kemudian masuk ke Ciliwung karena kita ada program Ciliwung Bersih. Karena itu adalah jalur air utama dari Bogor ke Jakarta, itu yang kami lakukan untuk mengurangi dampak," ujarnya.
Saat ini, lebih dari 60 persen sampah di Sungai Ciliwung telah berkurang. Selain itu, untuk memonitor kondisi aliran Sungai Ciliwung, Kota Bogor melalui Perumda Tirta Pakuan juga mulai memanfaatkan Sungai Ciliwung sebagai sumber air baku yang berlokasi di wilayah Kabupaten Bogor.
Dengan demikian, Kota Bogor memastikan air yang mengalir dari hulu hingga Bendung Katulampa dan seterusnya dapat menurun drastis tingkat polusinya.
"Kami melakukan upaya pengendalian lingkungan hidup. Berbagai langkah juga sudah dilakukan oleh Kota Bogor agar mengurangi beban di DKI Jakarta. Kemudian kami juga melakukan normalisasi beberapa situ sebagai tangkapan air. Tujuannya kami ingin mengupayakan ada parkir air, sehingga tidak semua langsung masuk dan mengalir ke DKI Jakarta ketika tinggi muka air meningkat," ujarnya.
Kota Bogor juga berencana membangun kawasan tangkapan air di wilayah Kedunghalang. Namun, lahan tersebut merupakan milik Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), sehingga diharapkan pembangunan tersebut dapat dilakukan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Selain isu kebersihan sungai, Kota Bogor juga terus melakukan berbagai upaya pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Hal itu dilakukan agar timbulan sampah Kota Bogor yang mencapai sekitar 1.000 ton per hari tidak masuk ke sungai, tercecer, maupun menimbulkan dampak lingkungan lainnya.
Kota Bogor melakukan pemilahan sampah dari sumbernya melalui TPS3R dan bank sampah. Sementara di bagian hilir, pengelolaan dilakukan melalui sistem controlled landfill dan saat ini pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) juga telah dimulai.
Kota Bogor saat ini juga memasuki tahap pembangunan PSEL Bogor Raya 2 yang akan dibangun oleh Danantara. Nantinya, fasilitas tersebut juga akan menampung sampah dari Kota Depok.
Dedie Rachim membuka peluang kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga wilayah yang berdekatan dengan Kota Bogor dapat memanfaatkan fasilitas PSEL tersebut.
"Permasalahan sampah ini harus ada sinergi dan kolaborasi yang kuat. Bagaimana sampah yang ditimbulkan dari rumah tangga dan industri tidak semuanya ditumpuk. Untuk mengurangi beban Depok, kita juga membuka peluang untuk DKI Jakarta. Kami sudah siapkan lahan 6,5 hektare dengan akses jalan baru yang akan kami siapkan. Kami coba bantu wilayah sekitar, karena sampah ini tidak bisa ditanggulangi sendiri, perlu kolaborasi dan sinergi," ujarnya.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan akan menindaklanjutinya.
"Saya melihat perkembangan Bogor ini sangat luar biasa. Terkait persampahan dan lingkungan hidup, saya melihat Bogor sudah melakukan berbagai tahapan dan langkah. Sehingga kita juga harus melakukan langkah di tengah dan di hilir," ungkapnya.
Di Jakarta, lanjut Yuke, juga telah dilakukan berbagai langkah untuk mencegah sampah masuk ke sungai serta upaya pengolahan sampah. Namun, upaya tersebut belum memberikan dampak yang signifikan.
"Sehingga memang ini ada hal-hal yang tetap harus kita benahi bersama. Gambaran tadi betul-betul itu yang kita hadapi bersama antara Bogor dan Jakarta," ujarnya.
Email Pengaduan
Balai Kota Bogor
Whatsapp Kota Bogor
Berita Terbaru
Rapim Pemkot Bogor, Evaluasi Penanganan Kebakaran TPAS Galuga dan Rencana Pembangunan Kota
Dedie Rachim Bahas Kolaborasi Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan DPRD DKI Jakarta
Pemkot Bogor dan Komisi D DPRD DKI Jakarta Bahas Infrastruktur hingga Pengelolaan Lingkungan
Sentra Kuliner Jambu Dua Jadi Momentum Memajukan Pasar di Kota Bogor