Selamat Datang Bogorian!

Momentum Isra Mi’raj 1447 H, Dedie Rachim Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Ibadah

Peringatan momentum Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1447 Hijriah tingkat Kota Bogor berlangsung dengan khidmat dan hangat di Masjid Agung Al-Isra, Jalan Nyi Raja Permas, Kota Bogor, Selasa (20/1/2026).

Di hadapan para jamaah, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyampaikan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang besar dalam sejarah umat Islam.

Ia menjelaskan, perjalanan Isra dan Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW membawa perintah yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam, yaitu perintah salat lima waktu, yang apabila diamalkan dengan baik maka akan menjadikan umat Islam sebagai orang-orang berakhlak.

“Isra Mi’raj adalah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, yaitu turunnya perintah salat. Kalau saja perintah salat yang turun langsung dari Allah SWT kita laksanakan sebaik-baiknya, maka 1.500 masjid dan musala yang ada di Kota Bogor paling tidak akan menghasilkan orang-orang yang berakhlak,” ujar Dedie Rachim.

Ia mengatakan bahwa hingga saat ini masih banyak umat Islam yang dalam melaksanakan salat lima waktu tersebut masih belum sempurna. Menurutnya, perbaikan pelaksanaan ibadah salat dalam sehari-hari harus terus dilakukan oleh tiap individu. 

“Masih banyak dari kita yang tentu belum sempurna melaksanakan tugas mulia ini. Oleh karena itu, melalui peringatan Isra Mi’raj dan ceramah yang disampaikan oleh K.H. Fikri Haikal semoga dapat menginspirasi kita bahwa seluruh rangkaian sholat itu harusnya bisa menjadikan seseorang itu berakhlak,” katanya. 

Dedie Rachim turut mengingatkan kepada para jamaah yang hadir bahwa dalam melaksanakan ibadah wajib, perlu juga diimbangi dengan ibadah-ibadah lainnya. 

“Ibadah wajib itu harus diimbangi dengan ibadah-ibadah yang lain, karena siapa tau ibadah wajib masih bolong-bolong bisa ditambal oleh ibadah lainnya. Salah satu contoh yang baik itu apabila kita tidak membuang sampah sembarangan maka tidak akan terjadi banjir,” tuturnya.

Sementara itu, K. H. Fikri Haikal MZ dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Isra dan Mi’raj merupakan momentum turunnya perintah salat lima waktu sebagai bentuk komunikasi langsung seorang hamba dengan Allah SWT.

“Salat adalah komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya secara langsung tanpa perantara, dimulai dengan niat, takbir, dan diakhiri dengan salam. Dengan salat lima waktu, hati kita selalu mengingat keberadaan Allah SWT,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salat yang dilaksanakan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan membentuk kepribadian dan keseimbangan hidup.

“Salat melekatkan kita, ketika bahagia kebahagiaan tidak berlebihan, ketika gundah kesedihan tidak berlarut. Maka dari itu, salat jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi media untuk perbaikan diri,” pungkasnya.

Tutup