Beranda >

Berita > Ini Upaya Pemkot Bogor Turunkan Angka Kekerasan Pada Anak dan Perempuan


06 Desember 2018

Ini Upaya Pemkot Bogor Turunkan Angka Kekerasan Pada Anak dan Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi perhatian serius pemerintah, baik pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah. Pasalnya, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat ada 1.885 kasus pengaduan kekerasan terhadap anak di 2018. Angka yang cukup mengkhawatirkan ini membuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI terus berupaya menurunkan angka kekerasan pada anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMPPA) Kota Bogor Artiana Yanar Anggraini mengatakan, sejak 2016 KPPPA mengenalkan program terobosan dalam upaya mengakhiri kekerasan pada anak dan perempuan. Program tersebut diberi nama Three Ends. Yakni akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan. Program yang merangkul semua elemen ini bertujuan untuk bergerak bersama mengatasi masalah yang setiap tahun angkanya kian mengkhawatirkan.

"Sesuai namanya, Three Ends ada sebagai upaya solutif untuk mengakhiri tiga masalah yang selama ini seolah jadi pekerjaan rumah bersama yang belum terselesaikan," ujarnya seusai acara Diskusi Tematik di Bogor Valley Hotel, Jalan. Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Kamis (06/12/2018)

Tak hanya KPPPA, lanjut Anna sapaan akrabnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga terus berupaya untuk mencegah, mengurangi bahkan menghilangkan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bogor. Upaya tersebut dilakukan dengan melakukan penguatan jaringan dan sinergitas kelembagaan yang di dalamnya ada DPMPPA Kota Bogor, P2TP2A Kota Bogor dan pihak kepolisian. Tak ayal, jika terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bogor bisa langsung ditangani dengan cepat.

"Jumlah kasusnya tidak terlalu banyak karena kami selalu sosialisasi ke masyarakat agar segera melapor jika teridentifikasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sehingga bisa langsung ditangani," imbuhnya.

Anna menyebutkan, kekerasan pada anak terbagi dalam enam kategori kekerasan. Sebut saja kekerasan fisik seperti menampar, menginjak kaki, meludahi, memalak, dan lainnya. Kekerasan secara psikis berupa memandang dengan sinis, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat sms, telepon atau email, memelototi dan lainnya. Selain itu ada pula kekerasan verbal yakni memaki, menghina, meneriaki, mempermalukan depan umum, memfitnah, menebar gosip dan masih banyak lagi lainnya.

Lebih lanjut Anna menerangkan, kategori keempat yakni kekerasan simbolik berupa gambar-gambar yang menyimbolkan kekerasan, gambar-gambar pornografi, gambar-gambar diskriminasi. Kelima kekerasan seksual mulai dari memegang, meremas bagian sensitif berhubungan badan tanpa atau dengan paksaan dan bentuk lain yang menafah pada kekerasan seksual.

"Terakhir kekerasan cyber yaitu mempermalukan, merendahkan, menyebarkan gosip di jejaring sosial internet," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat mengatakan, dalam hal menangani masalah kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan dan anak dibutuhkan gerakan semesta yang memungkinkan tercapainya kesepahaman semua pihak dan saling bergandengan tangan. Mulai orang tua (keluarga), guru (sekolah), pemerintah pusat dan daerah, media massa dan juga masyarakat media sosial (netizen). Agar kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di negeri ini bisa dikurangi, dicegah dan diakhir.

"Kenapa harus ada satu pemahaman karena sering kali jika terjadi banyak kasus kekerasan akan disimpulkan pemerintah tidak peduli dengan perlindungan perempuan dan anak. Sementara jika angka kekerasannya sedikit pemerintah dianggap tidak berhasil karena dirasa tidak mewakili keadaan sebenarnya,” pungkasnya. (Humpro : fla/hari-SZ)

Tambahkan Komentar
Nama :
Website :
Email :
Komentar :
Kode Verifikasi :
   
     
Komentar Masuk